Jl. Ir. Sutami

04Mar11

Jalan Ir Sutami, jalan yang membentang ke timur dari Pedaringan sampai Jembatan Jurug ini cukup populer di Solo. Jalan yang termasuk kelas II ini tiap harinya dibebani dengan berbagai jenis kendaraan siang dan malam. Kepopuleran jalan ini karena jalan inilah yang menjadi alamat kampus pusat UNS.

Boleh jadi, Anda yang saat ini menjadi dosen, karyawan atau mahasiswa UNS tidak asing lagi dengan nama jalan ini karena Anda setiap hari melewatinya. Akan tetapi tahukah Anda siapa sebenarnya Ir. Sutami yang menjadi nama jalan di Solo dan beberapa nama fasilitas umum di Indonesia ini ?

Ir. Sutami, seorang Menteri Pekerjaan Umum (PU) di masa Soeharto. Terus menjabat sebagai menteri PUdari Kabinet Dwikora I, II, Kabinet Ampera, bahkan sampai Kabinet Pembangunan. Tidak seperti kebanyakan menteri-menteri sekarang, beliau tidak berasal dari partai, ia seorang insinyur yang kemudian menjabat dalam bidang yang dikuasainya.

 

Yang menarik dari beliau, walaupun menjabat sebagai pemimpin di departemen yang anggarannya besar, atau bisa dibilang sangat besar, ia dikenal sbagai “menteri termiskin di dunia”. Bahkan sempat ada kabar ia menderita penyakit ‘kurang gizi’- atau saat ini dikenal dengan sebutan “gizi buruk”- Pernah rumahnya yang ada di Solo pernah dicabut aliran listriknya karena tidak bisa membayar.

 

Para wartawan di tahun ‘70-an memunyai keluhan panjang kalau mengikuti beliau meninjau daerah terpecil. Karena kalau perlu, berjalan kaki lebih dari enam jam! Tubuhnya yang kurus basah oleh keringat, senyumnya jarang terlihat. Tapi tidak selalu tampak serius menakutkan atau angker. Bahkan ketika Proyek Listrik Tenaga Air di Maninjau, Sumatra Barat, yang diperkirakan tak akan bisa dibuat akhirnya berhasil, beliau menggendong pimpro. Pak Menteri menggendong anak buahnya, sebagai penghargaan, sebagai kekaguman.

 

“Tukang insinyur” ini ikut pula membidani lahirnya Fakultas Teknik Universitas Indonesia, serta munculnya dan beroperasinya jalan tol yang sekarang dikenal sebagai tol Jagorawi. Kapasitas profesionalnya melampaui keberadaannya sebagai pejabat negara dan dinamika yang dilahirkan.

Seperti munculnya tenaga profesional, dan tetap begitu ketika menjadi badan usaha negara. Kualitas profesionalnya, kerendahan hati dari pribadi, kebersamaan dengan rakyat, seakan menjadikan “menteri ajaib”.  Lebih dari itu, pada masanya, tak ada soal aib, tak ada kasus korupsi yang disangkutkan dengan wewenangnya. Semua berjalan mulus, lurus, tulus.

Pak Tami, demikian sebutan hormatnya, meninggal dalam usia masih muda, 52 tahun, pada tanggal 13 November 1980. Jasa-jasanya, amal baik, menemukan tempatnya di hati rakyat secara luas.

Sedemikian bergemanya hingga bukan hanya bendungan besar yang memakai namanya, melainkan juga waduk-waduk biasa di sepanjang Sungai Brantas dan jalan-jalan yang bukan jalan utama memakai namanya. Belum terhitung bangunan, atau tempat-tempat tertentu, yang memakai nama beliau secara spontan.

Kini, nama Ir.Sutami yang menjadi nama jalan depan kampus UNS hendaknya menjadi teladan. Teladan profesionalisme dan kesederhanaan. Menjadi sebuah harapan besar , saat UNS juga melahirkan Pak Tami-Pak Tami masa depan. (enha- sumber: koran-jakarta.com)



No Responses Yet to “Jl. Ir. Sutami”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: