Bahasa Tulis Seharusnya Lebih Sopan

31Mei10

Saat ini, kita menemukan berapa banyak konflik terjadi hanya karena masalah perkataan. Misalnya bulan lalu ada salah seorang mahasiswa peguruan tinggi ternama menuliskan perkataan kekesalannya yang bernuansa SARA di dalam status facebooknya sehingga menuai protes dari kalangan lain yang merasa diremehkan. Dan banyak lagi masalah-masalah seperti itu akhir-akhir ini.

Perkataan yang baik maupun yang buruk tentunya berasal dari hati orang yang menyatakan. Lisan manusia sering kali tidak terkontrol karena hati diliputi oleh hawa nafsu yang buruk, sehingga perkataan yang muncul pun terkadang tidak mempedulikan yang mendengar atau membaca. Kadang kala, kekasaran dalam bahasa lisan mudah ditolerir oleh pendengar karena memaklumi bahwa bahasa lisan biasanya bersifat spontan dan kadang susah ‘diedit’ setelah perkataan tersebut keluar. Berbeda dengan perkataan dalam bentuk tulisan, tentu saja si penulis harus berfikir dua kali untuk menuliskan perkataannya tadi. Si penulis dapat dengan mudah berulang kali membaca, mengedit, menyempurnakan, menghaluskan kata-katanya supaya pesan yang disampaikan tidak menyakiti hati orang lain dan dapat diterima dengan baik.

Sayangnya, kita masih banyak mendapati tulisan-tulisan yang malah lebih kasar dari bahasa lisan. Banyak kita dapati tulisan-tulisan, status, komentar di berbagai situs jejaring social semisal facebook, twitter, wordpress dan lain sebagainya yang memicu konflik yang seharusnya tidak terjadi. Betapa banyak kasus-kasus yang beberapa malah sampai ke penegak hukum hanya karena tulisan singkat di status jejaring social beberapa orang yang mungkin kurang bisa menahan diri. Padahal, ‘tulisan’ adalah salah satu parameter keberadaban manusia. Kita pasti masih ingat pelajaran sejarah bahwa ditemukannya tulisan merupakan batas antara zanam pra sejarah dan zaman sejarah, di mana zaman sejarah memiliki peradaban yang lebih baik.

Betapa banyak ajaran Islam yang mengupas masalah perkataan, salah satunya di dalam ayat Al-Qur’an: “Tidak ada suatu ucapan yang diucapkan seseorang melainkan ada di dekat (pengucap)-nya (malaikat) pengawas yang selalu hadir (mencatat ucapan-ucapannya tersebut) (QS 50:18).

M. Quraish Shihab dalam bukunya ‘Lentera Hati’ menuliskan bahwa kata “pembicaraan” dalam bahasa Al-Qur’an dinamai ‘kalam’. Dari akar kata yang sama dibentuk kata yang berarti ‘luka’ agar menjadi peringatan bahwa kalam juga dapat melukai. Bahkan, luka yang diakibatkan oleh lidah lebih parah daripada yang diakibatkan oleh pisau.

Penjelasan di atas seharusnya mengantarkan manusia untuk selalu berhati-hati, memikirkan dan merenungkan apa yang akan diucapkan dan dituliskan. Anda menawan apa yang akan Anda ucapkan. Tetapi begitu terucapkan maka Andalah yang menjadi tawanannya.

Sekalipun menyampaikan kebaikan, kita juga dituntut untuk berhati-hati, memikirkan dan merenungkan. Seperti halnya sifat dasar umum redaksi-redaksi Al-Quran adalah singkat dan padat. Dengan sifatnya yang singkat yang padat tersebut sehingga seseorang mudah memahami Al-Qur’an. Rasulullah SAW juga pernah berkata bahwa: “Salah satu tanda kedalaman ilmu seseorang adalah mempersingkat khutbah (Jumat)”

Akhirnya kita perlu kembali mengkoreksi bagaimana selama ini kita berucap. Apakah sudah kita pikirkan dan renungkan pengaruh ucapan kita ? tulisan kita ? SMS kita ?. Peri bahasa bahwa ‘diam itu emas’ mungkin ada benarnya. Tanpa  susah-susah menelusuri asal peri bahasa itu, yang jelas maknanya sejalan dengan tuntunan agama.

Kulonprogo, 29 Mei 2010



No Responses Yet to “Bahasa Tulis Seharusnya Lebih Sopan”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: