Radikalisme Masuki Masjid Nurul Huda UNS ?

30Jan10

Adanya publikasi riset  bahwa Masjid Nurul Huda UNS menjadi tempat berkembangnya radikalisme perlu dikaji kembali. Beberapa kesimpulan penelitian tersebut dimuat dalam harian Republika Jum’at 8 Januari 2010 dengan judul ‘Penelitian: Radikalisme Masuki Masjid’.  Sumber berita tersebut merupakan hasil dari riset CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di beberapa masjid di Solo beberapa bulan yang lalu.

Riset  dengan tajuk Pemetaan Ideologi Masjid-masjid di Solo tersebut merupakan tindak lanjut dari riset sebelumnya, yaitu pemetaan terhadap ideologi masjid yang ada di Jakarta. Sepuluh masjid yang menjadi objek riset tersebut adalah Masjid Kottabarat (Muhammadiyah) dan Masjid Al Firdaus (NU) yang dimasukkan dalam kategori masjid yang ada di bawah naungan ormas Islam besar. Lalu, Masjid Al Islam Gumuk dan Al-Kahfi Hidayatullah.

Kedua masjid tersebut memiliki afiliasi dengan organisasi FPI Surakarta dan Hidayatullah. Kemudian, Masjid Kampus UNS Nurul Huda dan Masjid Pesantren Jamsaren yang merupakan masjid yang berada di lingkungan pendidikan.

Selain itu, ada pula Masjid Al-Muttaqien dan Masjid Kompleks al-Hikmah yang berada di tengah masyarakat heterogen/non-Muslim dan suku-suku yang berbeda. Dan, Masjid Agung dan Masjid Besar Laweyan yang berada di bawah pemerintah. Irfan mengatakan, yang diteliti adalah pengurus masjid dan pengajar.

Menjadi Perhatian di UNS

Hasil riset tersebut mengatakan bahwa di Masjid Al-Muttaqien tingkat radikalismenya cukup tinggi. Sedangkan, tingkat radikalisme yang lebih rendah ada di Masjid Kampus UNS Nurul Huda, Masjid Pesantren Jamsaren, dan Masjid Kompleks al-Hikmah. Sedangkan  istilah Islam radikal yang digunakan dalam penelitian ini diartikan sebagai Islam yang menjalankan ajaran Alquran dan hadis secara utuh, tidak toleran, serta memperjuangkan Islam total dan berdirinya kekhalifahan Islam.

Pasca dimuatnya berita tersebut, beberapa pejabat kampus melakukan klarifikasi kepada beberapa lembaga yang berada di Masjid Nurul Huda UNS. Kesan negatif pun muncul karena istilah radikalisme sekarang terkesan negatif, karena sangat dekat dengan istilah fundamentalisme dan terorisme. Salah kaprah mengenai istilah radikalisme juga ikut mendukung kesan negatif tersebut.

Apa  itu Radikalisme ?

Memasyarakatnya istilah radikalisme diawali dengan terjadinya kasus pengeboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu, ditambah lagi dengan digelarnya diskusi dan seminar tentang terorisme  dan radikalisme.  Seakan-akan opini yang akan dibentuk adalah:  aksi-aksi terorisme bersumber dari pemahaman agama yang radikal. Meskipun banyak yang berkata, terorisme tidak ada hubungannya dengan agama tertentu. Namun, ada yang berkesimpulan, untuk membendung terorisme, maka pemahaman agama yang radikal harus dicegah atau diberantas.

Sedikit banyak muncul suasana antagonis antara pemerintah dengan sebagian umat Islam. Setidaknya, muncul situasi saling curiga antar komunitas bangsa, bahkan sesama umat Islam pun tercipta kondisi semacam itu. Mungkin tanpa sadar, ada yang  terseret pada situasi adu-domba satu sama lain. Saling tuding, saling cerca, dan saling benci, terjadi hanya karena perbedaan pandangan tentang Islam, terorisme, demokrasi, dan sebagainya. Yang satu dituduh radikal, yang lain dituduh antek Barat. Yang satu pro-thaghut, yang lain dicap antek-teroris. Situasi seperti itu tentunya tidak mungkin dikehendaki oleh umat Islam.
Di tengah situasi seperti ini, muncul pemikiran bahwa radikalisme keagamaan harus diberantas. Pertanyaannya, secara akademis, perlu dirumuskan, apa definisi radikalisme dan siapa saja yang disebut kaum radikal tersebut?  Kita perlu berfikir jernih tentang masalah ini, lepas dari tekanan politik atau gelombang besar opini global yang menempatkan kaum radikal atau militan sebagai pihak yang jahat dan bertanggungjawab atas segala teror. Menyusul berakhirnya Perang Dingin, 1990, dimunculkan wacana bahwa musuh dunia yang utama adalah kaum fundamentalis Islam. Keluarlah buku-buku yang mendefinisikan apa itu fundamentalis Islam dan siapa saja mereka.

Pendekatan historis merupakan faktor yang penting untuk memahami fundamentalisme Islam. Hasan Hanafi menyamakan istilah ‘Fundamentalisme Islam’ dengan ‘Salafiah’. Di Mesir, istilah fundamentalisme mengemuka saat investigasi terjadinya pembunuhan Presiden Anwar Sadad. Terungkap dalam investigasi ini bahwa anggota-anggota organisasi yang disebut fundamentalis ini sanagat antusias membaca sejarah, terutama kitab al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, untuk mengetahui dinamika perjalanan peradaban Islam. Untuk mengetahui bagaimana peradaban yang adiluhung ini berkembang, berdiri dan mencapai kejayaan sampai akhirnya runtuh. Bisa diartikan juga fundamentalisme adalah romatisme sejarah akan kembalinya kejayaan Islam di masa depan. Romantisme masa lalu ini begitu hebat mencengkeram pikiran sampai-sampai gerakan Salafiah berhalauan konserfatif-puritanisme ingin meninggalkan pesawat terbang dan mengajak kita untuk kembali naik kuda dan onta.

Perang melawan fundamentalis akhirnya tidak banyak membawa hasil. Definisi fundamentalis seringkali kabur dan dilebarkan kemana-mana. Dunia tidak semakin damai. Harapan dunia yang aman setelah komunis runtuh, tidak terwujud. Upaya menemukan musuh baru bagi dunia Barat setelah komunis runtuh terus dilakukan oleh kalangan tertentu di Barat. Samuel P. Huntington, dalam bukunya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, secara terang-terangan menulis:  “It is human to hate. For self definition and motivation people need enemies: competitors in business, rivals in achievement, opponents in politics.” Jadi, kata Huntington, adalah manusiawi untuk membenci. Demi tujuan menentukan jati diri dan membangkitkan motivasi, masyarakat memang perlu adanya musuh.

Tiga tahun setelah peristiwa 11 September 2001, Huntington kembali menegaskan perlunya musuh baru bagi Amerika Serikat dan Barat. Dan katanya, musuh itu sudah ketemu, yaitu kaum Islam militan. Dalam bukunya, Who Are We? (2004), Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul “Militant Islam vs. America”, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS. “The rhetoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam…This new war between militant Islam and America has many similarities to the Cold War. Muslim hostility encourages Americans to define their identity in religious and cultural terms, just as the Cold War promoted political and creedal definitions of that identity.”

Setelah itu, entah ada hubungan dengan pemikiran Huntington atau tidak,  terjadilah “perburuan Islam militan” atau “Islam radikal”.  Tetapi, lagi-lagi, sebagaimana dalam kebijakan perang melawan fundamentalisme, definisi ”radikalisme” itu sendiri tidak diselesaikan secara akademis. Siapakah kaum radikal yang harus diperangi? Mengapa mereka disebut radikal? Sejumlah kajian di Indonesia sudah secara terbuka menyebut beberapa kelompok Islam berpaham radikal. Pemetaan-pemetaan telah banyak dilakukan, sebagian umat Islam dicap radikal, sebagian lain dicap moderat, dan sebagainya. Mirip dengan situasi di zaman penjajahan.

Tapi, di masa penjajahan Belanda, kata ‘radikal’ bermakna positif bagi pejuang kemerdekaan RI.  Bahkan, tahun 1918, di Indonesia terbentuk apa yang disebut sebagai “Radicale Concentratie”, yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, dan Indische Sociaal Democratische Vereniging. Tujuannya untuk membentuk parlemen yang terdiri atas wakil-wakil yang dipilih dari kalangan rakyat.     ‘Radikalisme’ berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”, artinya akar ; (radicula, radiculae: akar kecil). Berbagai makna radikalisme, kemudian mengacu pada akar kata “akar” ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”, “habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan”, dan “maju dalam berpikir atau bertindak”. Sedangkan “radikalisme”, diartikan sebagai: “paham atau aliran yang radikal dalam politik”, “paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara yang keras atau drastis”, “sikap ekstrim di suatu aliran politik”.

Di Indonesia, dalam aplikasinya untuk kelompok-kelompok Islam, kata radikal mendapatkan makna khusus. Tahun 2004, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta  menerbitkan buku berjudul “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia” Ada empat kelompok yang mendapat cap “salafi radikal” dalam buku ini, yaitu Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Hizbuttahrir

Menurut buku ini, kriteria ‘Islam radikal’ adalah : pertama, mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung; kedua, dalam kegiatannya mereka seringkali menggunakan aksi-aksi yang keras, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan keyakinan mereka, ketiga secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas. keempat Kelompok ‘Islam radikal’ seringkali bergerak  secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan.

Tentang ideologi ‘Islam radikal’, buku ini mengutip pendapat John L. Esposito (dari bukunya, Islam: The Straight Path), yang lebih suka menggunakan istilah ‘Islam revivalis’. Pertama, mereka berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat. Kedua, mereka seringkali menganggap bahwa ideologi  masyarakat Barat yang sekular dan cenderung materislistis harus ditolak. Ketiga, mereka cenderung mengajak pengikutnya untuk ‘kembali kepada Islam’ sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial. Keempat, karena idelogi masyarakat Barat harus ditolak, maka secara otomatis peraturan-peraturan sosial yang lahir dari tradisi Barat, juga harus ditolak. Kelima, mereka tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan tidak merusak sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final. Keenam, mereka berkeyakinan, bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat Muslim tidak akan berhasil  tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun pembentukan sebuah kelompok yang kuat.

Kita bertanya, apakah salah jika seorang Muslim meyakini agamanya sebagai satu kebenaran dan tata aturan sistem kehidupan yang sempurna?  Bukankah menjamurnya lembaga-lembaga ekonomi syariah juga dijiwai dengan pemikiran dan semangat yang sama? Jika kita membaca pemikiran dan kiprah para pejuang Islam yang juga pendiri bangsa ini, seperti KH Wahid Hasjim, M. Natsir, Haji Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan sebagainya, dapat disimak bagaimana kuatnya keyakinan mereka pada agamanya dan gigihnya mereka dalam memperjuangkan cita-cita Islam di Indonesia. Namun, mereka tetap berupaya memperjuangkannya secara konstitusional.

Karena itu, sebenarnya, penggunaan istilah “radikalisme” dan “Islam radikal”  untuk menunjuk kepada jenis pemahaman Islam tertentu, akan sangat problematis. Istilah ini lebih banyak bernuansa politis, ketimbang akademis. Apalagi, jika istilah ini digunakan hanya untuk melakukan stigmatisasi terhadap kelompok-kelompok Islam tertentu.  Sebab, istilah ”radikalisme” tidak memiliki padanan dalam konsep pemikiran Islam. Lebih tepat sebenarnya digunakan istilah ”ekstrimisme” dalam Islam. Istilah ini ada padanan katanya dalam kosa kata pemikiran Islam, yaitu ”tatharruf” atau ”ghuluw.”  Yakni, sikap  berlebih-lebihan dalam agama, yang memang dilarang oleh Nabi Muhammad saw.

Akhirnya sebagai masyarakat akademis, tentunya kita harus memiliki sikap kritis mengenai permasalahan yang ada. Apalagi megenai hal-hal yang sensitif mengenai istilah-istilah yang cenderung memojokkan Islam yang akhirnya kontraproduktif dengan perkembangan dakwah Islam saat ini.

Referensi:

Adian Husaini : Radikalisme atau Ekstrimisme? , http://insistnet.com

Harian Republika Jum’at 8 Januari 2010 (berita lengkap bisa dilihat di sini atai di sini)

Hasan Hanafi : Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam : Penerbit Islamika

Ket:

Foto: Interior masjid nurul huda UNS



One Response to “Radikalisme Masuki Masjid Nurul Huda UNS ?”

  1. 1 david kurniawan

    wahai,,saudaraku,,
    entah islam radikal maupun islam KTP maupun islam normal maupun islam kaffah maupun islam ahli sunnah waljmaah itu sebatas sebutan saja, siapapun berhak menyebutkan islam dengan nama2 kesukaannya,,, yang perlu kalian sadari itu adlah jangan menganggap sesuatu yang umum itu pasti benar dan yang minoritas itu pasti salah, saudaraku, bukankah anda punya akal untuk berfikir,, jadi entah sebutannya macam2, tp ttp yang membawa ajaran dan pemikiran yang benarlah yang perlu anda benarkan, dan yang paling penting adalah benar bukan karena persepsi anda tapi benar secara islam, jika anda masih beriman pasti anda akan percaya kebenaran itu mutlak dari islam dengan dasar hukum islam yang kuat… sebelum anda men- justifikasi sesuatu sebaiknya anda bandingkan dan kaji dulu dari opini yang dua arah antara yang setuju maupun yang tidak setujum dari situ maka inforamsi akan imbang dan baru bisa anda simpulkan,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: